Jumat, 15 Agustus 2014

Dosa Mencela Waktu


          "Sial banget sih hari ini, kalo tanding hari Sabtu mesti kalah, hari Sabtu memang hari sialku." ujar seorang pelajar yang kalah main bola.

"Jangan melakukan ini dan itu pada hari Rabu Kliwon, itu hari naas kakekmu, kalau kamu nekat pasti bakalan sial." kata seorang bapak pada anaknya.

     Ungkapan diatas bukan barang baru, tapi banyak orang yang tak mengetahui kalau ucapan tersebut ternyata mengandung celaan terhadap masa (waktu). Kalo kawula muda biasanya bilang hari sial, kalo kawula tua bilang hari naas. Keyakinan seperti ini banyak mendarah daging dimanapun dan kadang alot ketika hendak diluruskan.

  

  By the way, mencela masa termasuk hal yang dilarang oleh Allah lho sobat muda. Dan ternyata mencela waktu merupakan kebiasaan orang-orang musryik terdahulu. Allah pun mencela perbuatan mereka,


وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

     
      Ibnu Munzir mengetengahkan pula hadis lain yang bersumber dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwasanya orang-orang jahiliyah itu selalu mengatakan, "Sesungguhnya tiada yang membinasakan kita melainkan hanya malam dan siang (maksudnya zaman)." Sehubungan dengan hal ini Allah menurunkan firman-Nya, "Dan mereka berkata, 'Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.'" (Q.S. Al-Jatsiyah, 24)


      Dalam Hadist pun Rasulullah menegaskan tentang larangan mencela masa,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ  
Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000)

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَلاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَإِنِّى أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَاشِئْتُ قَبَضْتُهُمَا


Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mengatakan ’Ya khoybah dahr’ [ungkapan mencela waktu, pen]. Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan ’Ya khoybah dahr’ (dalam rangka mencela waktu, pen). Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya.”  (HR. Muslim no. 6001)
   
      An Nawawi r.a dalam Syarh Shahih Muslim (7/419) mengatakan bahwa orang Arab dahulu biasanya mencela masa (waktu) ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti kematian, kepikunan, hilang (rusak)-nya harta dan lain sebagainya sehingga mereka mengucapkan 'Ya Khoybah Dahr' (atau ungkapan mencela waktu) dan ucapan celaan lainnya yang ditunjukan kepada waktu.

      Nah, sekarang kita sudah tahu kan? So, jangan sampai deh kita punya keyakinan atau mengucapkan kata-kata hari sial, hari naas dan semisalnya. Ingat mencela masa (waktu) sama halnya dengan mencela pengaturan masa, yaitu Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar